Ingatlah kematian
Lho hidup di dunia ini kok disebut alam kematian?
Karena orang hidup di dunia itu hakekatnya adalah mati,
dan orang yang sudah mati itu hakekatnya hidup.
Alasannya, kita hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan.
Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit.
Nah, kita makan itu sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya, maka kita ini disebut mati.
Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Yang hidup hanyalah ruh. Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh.
"Belajarlah mati sebelum kematian itu datang".
Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati.
Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI.
Belajar mati sangatlah penting. Agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah.
Kalau diibaratkan, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon.
Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus
kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.
Pertanyaannya, Bagaimana untuk bisa bertemu dengan GUSTI? Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajah sang kekasih hati sudah terlukis dalam benak kita meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh.
"Jauh di mata, dekat di hati".
Pertama, GUSTI harus selalu terlukis dalam benak kita.
Artinya, kita harus senantiasa eling.
Kedua, GUSTI itu bersifat Ghaib. "Mustahil bagi kita yang nyata
ini bertemu dengan yang Ghaib," begitu kata orang rasional.
Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual. Seseorang bisa bertemu dengan Sang GHAIB dengan
menggunakan satu piranti khusus.
Apakah itu? Piranti itu adalah mata batin. Sebab GUSTI tidak bisa
dipandang dengan mata telanjang.
Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua cara tersebut lebih mengandalkan pada piranti yang
lebih halus lagi untuk bisa bertemu dengan GUSTI yaitu dengan
RASA.
Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam
seperti mata pedang.
Cobalah untuk berlatih mengasah RASA dengan cara
belajar mati.
Salam 3S