Aib
Aib adalah suatu cacat-cela atau kondisi yang tidak baik tentang seseorang, jika diketahui oleh orang lain akan membuat rasa malu, rasa malu ini membawa kepada efek yang negatif jika tersebar.
Ajaran Islam melarang keras aib seseorang diceritakan, dan tidak boleh sekali-kali menyebarkan tentang apa atau bagaimana kondisi yang tidak baik tentang diri sendiri atau orang lain, bahkan islam mengajarkan untuk menutupinya.
Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw melarang seseorang untuk membuka aib dirinya sendiri kepada orang lain, sebagaimana sabdanya:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ اْلإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلاَنُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ فَيَبِيْتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan.
Berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari padahal sesungguhnya Alloh telah menutupinya, akan tetapi dia berkata (kepada temannya):
“Hai Fulan .! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu.”
Sesungguhnya Alloh telah menutupi dosanya di malam hari sehingga ia semalam dalam keadaan ditutupi aibnya, tetapi kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Alloh dari dirinya.”
(HR. Muslim)
Bila menceritakan aib sendiri saja dilarang .. Bagaimana dgn menyebarkan aib orang lain .? .. tentu hal tersebut lebih terlarang.
Alloh swt berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain.
Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging (bangkai) saudaranya yang telah mati .? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya.
(Oleh sebab itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurot: 12)
Rosululloh saw bersabda:
“Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Alloh akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Alloh akan aibnya, maka Alloh akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya.”
(HR. Tirmidzi).
Sebaliknya, Rosululloh saw memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menutup aib saudara-saudara mereka:
“Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Alloh menutup aibnya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim).
Adapun aib yang ada pada seseorang menurut Imam al Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bisa dibagi menjadi dua kategori:
Pertama, aib yang sifatnya kholqiyah, yaitu aib yang sifatnya qudroti dan bukan merupakan perbuatan maksiat. Seperti cacat di salah satu organ tubuh atau penyakit yang membuatnya malu jika diketahui oleh orang lain.
Aib seperti ini adalah aurat yang harus dijaga, tidak boleh disebarkan atau dibicarakan, baik secara terang-terangan atau dengan gunjingan, karena perbuatan tersebut adalah dosa besar menurut mayoritas ulama, karena aib bawaan itu ciptaan Alloh swt yang manusia tidak memiliki kuasa menolaknya, maka menyebarkannya berarti menghina dan itu berarti menghina Penciptanya.
Kedua, aib berupa perbuatan maksiat, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi juga terbagi menjadi dua:
Pertama: Perbuatan maksiat yang hanya merusak hubungannya secara pribadi dengan Alloh swt seperti minum khomr, berzina dll. Jika seorang muslim mendapati saudaranya melakukan perbuatan seperti ini hendaklah ia tidak menyebar-luaskan hal tersebut, namun dia tetap memiliki kewajiban untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Imam Syafi’i berkata:
“Siapa yang menasehati saudaranya dengan tetap menjaga kerahasiaannya berarti dia benar-benar menasehatinya dan memperbaikinya. Sedang yang menasehati tanpa menjaga kerahasiaannya, berarti telah mengekspos aibnya dan mengkhianatinya.”
(Syarh Shohih Muslim, Imam an Nawawi).
Kedua: Perbuatan maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi tapi merugikan orang lain seperti mencuri, membunuh, korupsi dan lain sebagainya yang semisal. Maka perbuatan seperti ini diperbolehkan untuk diselidiki dan diungkap, karena hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan, karena akan lebih banyak lagi merugikan orang lain.
Sebuah kisah masyhur yang ditulis oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitab “Tawwabin” dapat dijadikan pelajaran bagi kita untuk menutup aib diri sendiri dan aib orang lain serta mengakuinya dihadapan Alloh swt dengan bertaubat atas dosa tersebut.
Disebutkan bahwa pada zaman Nabi Musa as, Bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata:
“Wahai Kaliimalloh, berdo’alah kepada Robbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.”
Maka berangkatlah nabi Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdo’a dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.
Nabi Musa as berdo’a:
“Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rohmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud.”
Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Nabi Musa as berdo’a lagi:
“Wahai Tuhanku berilah akmi hujan.”
Alloh swt pun berfirman kepada Nabi Musa as:
“Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian.”
Maka Nabi Musa as pun berteriak di tengah-tengah kaumnya:
“Wahai hamba yang bermaksiat kepada Alloh sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun.”
Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di depan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Ia berkata dalam hatinya:
“Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”
Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes, sambil berdo’a kepada Alloh swt :
“Ya Alloh, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku.”
Belum sempat ia mengakhiri do’anya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.
Nabi Musa as pun keheranan dan berkata:
“Ya Alloh, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia.”
Alloh swt berfirman:
“Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”
Nabi Musa as berkata:
“Ya Alloh, Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”
Alloh swt berfirman:
“Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku ..?”
Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela dan dosa tertentu pada dirinya, maka suatu aib yang ada pada seseorang dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain untuk dapat belajar dan memperbaiki diri, agar tidak melakukan hal serupa yang akan menimpa dirinya dan orang lain akibat perbuatannya tersebut.
Sungguh beruntung dan berbahagialah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dari disibukkan dengan aib orang lain. Begitulah Rosululloh Saw menyampaikan dalam sabdanya:
“Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain.”
(HR Al-Bazzar dengan sanad hasan).
Begitu indahnya ajaran Islam yang menuntun kita agar menjaga aib kita sendiri dan menjaga aib orang lain, dan terus berupaya memperbaiki diri dan berbuat baik kepada orang lain.
Wallohu a’lam bishowab.
Yang mau order pijat monggo bisa langsung tlp 082230962348.