Kisah nabi muhammad bagian 49
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
*KISAH RASULULLAH ﷺ*
Bagian 49
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
*Abu Thalib Sakit Keras*
_Beberapa bulan setelah piagam dihapus, Rasulullah kembali mengalami ujian besar._
_Kali ini bukan penyiksaan dari pihak lawan, melainkan berupa kehilangan orang yang beliau cintai._
_Karena sudah lanjut usia dan menderita kehidupan berat di pengasingan selama tiga tahun, Abu Thalib jatuh sakit._
_Saat itu usianya sudah delapan puluh tahun._
_Mengetahui Abu Thalib sakit keras, orang-orang Quraisy khawatir akan terjadi perang antara kaum Quraisy dan Rasulullah beserta para pengikutnya._
_Apalagi dipihak Rasulullah ada Hamzah dan Umar yang terkenal garang dan keras._
_Selama ini, Abu Thalib selalu bisa menjadi penengah kedua belah pihak._
_Para pemuka Quraisy menemui Abu Thalib dipembaringan dan berkata,_
_"Abu Thalib, engkau adalah keluarga kami juga._
_Sekarang ini, keadaan antara kami dan kemenakanmu sudah sangat mencemaskan kami._
_Panggilah dia._
_Kami dan dia akan saling memberi dan menerima._
_Biarlah dia dengan agamanya dan kami dengan agama kami pula"_
_Rasulullah Kemudian datang._
_Mengetahui maksud kedatangan mereka, Rasulullah bersabda,_
_"Sepatah kata saja saya minta yang akan membuat mereka merajai semua orang Arab dan bukan Arab."_
_"Katakanlah, demi ayahmu," kata Abu Jahal,_
_"Sepuluh kata sekali pun silahkan !"_
_Rasulullah bersabda,_
_"Katakan, tidak ada ada Tuhan selain Allah dan tinggalkan segala penyembahan selain Allah."_
_"Muhammad," seru mereka,_
_"Maksudmu tuhan-tuhan itu dijadikan satu saja ?"_
_Para Pembesar Quraisy Saling pandang dengan kecewa menghadapi keteguhan Rasulullah._
_"Pulanglah," kata mereka satu sama lain,_
_"Orang Ini tidak akan memberikan apa-apa seperti yang kamu kehendaki._
_Pergilah Kalian !"_
*Abu Thalib Wafat*
_Rasulullah duduk di sisi pembaringan pamannya._
_Dengan sedih, ditatapnya wajah bijaksana orang tua itu._
_Hati Rasulullah dipenuhi rasa duka, tidak hanya karena melihat sakit sebelum maut yang diderita Abu Thalib, tetapi juga karena sampai saat itu, pamannya belum juga membuka hatinya kepada Islam._
_Rasulullah menggenggam tangan pamannya dengan lembut._
_Inilah Abu Thalib yang dulu mengajaknya berdagang ke Syam karena tidak tega berpisah dengannya._
_Inilah pamannya yang dulu merawatnya penuh kasih sayang, bahkan mencintainya melebihi kecintaan kepada anak-anaknya sendiri._
_Inilah Abu Thalib yang membuka jalan pertemuannya dengan Khadijah dan mendorongnya menjadi pemimpin kafilah dagang Khadijah._
_Inilah Abu Thalib yang selalu menjadi pelindungnya sejak dirinya menjadi yatim sampai menjadi utusan Allah_
_Abu Thalib membuka matanya yang sayu dan memandang Rasulullah,_
_"Demi Allah, wahai anak saudaraku, aku tidak melihatmu menawarkan sesuatu yang berat kepada para pemuka kaummu."_
_Sejenak timbul harapan Rasulullah akan keislaman pamannya itu,_
_"Wahai pamanku, ucapkanlah satu kalimat maka dengan kalimat tersebut engkau berhak mendapat syafaatku pada Hari Kiamat."_
_Akan tetapi, Abu Thalib tetap enggan menerima ajakan tersebut._
_Kemudian wafatlah ia._
_Kini, hilang sudah seorang pelindung Rasulullah._
_Mulai saat ini, Rasulullah harus menghadapi semuanya sendiri._
*Kata-Kata Terakhir Abu Thalib*
_Ketika Rasulullah mengajak Abu Thalib mengucapkan syahadat pada saat-saat terakhirnya, Abu Thalib berkata,_
_"Kalau saja aku tidak khawatir nasib keluargaku akan dianiaya setelah kepergianku dan kaum Quraisy bakal mengatakan, bahwa aku berucap karena gentar menghadapi sakaratul maut, aku tentu mengucapkannya._
_Kalau pun kuucapkan, itu sekadar menyenangkan hatimu."_
*Khadijah Wafat*
_Seusai penguburan Abu Thalib, Rasulullah kembali ke rumah dan menemukan Khadijah jatuh sakit._
_Rasulullah menggenggam tangan Khadijah yang kini terasa panas._
_Dari hari ke hari, wajah Khadijah semakin pucat dan gemetar, Rasulullah amat terharu._
_Pada saat-saat seperti ini, istrinya itu tetap berusaha menguatkan hatinya._
_Seolah-olah Khadijah tahu bahwa perjuangan suaminya masih sangat panjang dan berliku, sedangkan perjuangannya sendiri sudah mencapai titik akhir._
_Akhirnya saat perpisahan sepasang suami istri yang mulia itu pun tiba._
_Hanya beberapa hari setelah Abu Thalib meninggal, Khadijah pun wafat dengan tenang._
_Dalam beberapa hari saja, Rasulullah kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, paman yang mengasuh dan melindunginya serta istri yang setia mendampingi dalam menempuh semua suka dan duka, terutama setelah beliau diangkat menjadi Rasul selama sepuluh tahun terakhir kehidupan mereka._
_Masa-masa duka ini dikenal dengan nama 'Amul Huzni (tahun kesedihan)._
_Saat itu, seolah-olah semua kegembiraan di hati Rasulullah pudar._ _Indahnya kehidupan seolah-olah ikut terkubur bersama jasad dua orang kesayangan itu._
_Rasulullah tertunduk di samping pusara Khadijah. Air mata beliau mengalir tanpa tertahan._
_Beliau ingat, betapa besar penderitaan pamannya dan kesengsaraan yang dipikul istrinya saat mereka bertindak melindungi beliau._
_Rasanya, hidup Khadijah lebih banyak dilalui dengan menanggung begitu berat beban perjuangan dibanding menikmati manisnya kehidupan._
_Keluarga dan sahabat merasakan betul kesedihan Rasulullah._
_Sekuat tenaga, mereka berusaha menghibur Rasulullah._
_Inilah saat-saat ketika para pengikut, yang biasanya dihibur dan dikuatkan hatinya oleh Rasulullah, berganti menghibur dan menguatkan hati Rasulullah._
_Sungguh pada saat yang mengharukan, tetap ada keindahan yang tampak dalam persaudaraan mereka._
Bersambung
_*Wallahua'lam*_