Kisah nabi Muhammad bagian 67
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ”
*KISAH RASULULLAH ﷺ*
Bagian 67
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
*Nama Yatsrib Menjadi Madinah*
_Yatsrib berasal dari nama Yatsrib bin Mahlail._
_Ia adalah keturunan raja-raja Amaliqah yang dahulu pernah berkuasa di kota itu._
_Setelah Rasulullah hijrah, beliau mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah._
_Cuaca di Kota Madinah sangat kering._
_Pada musim dingin suhunya sangat rendah dan pada musim panas suhunya jauh lebih panas dari pada Mekah._
_Banyak sahabat Muhajirin yang tidak kuat dengan cuaca tersebut dan jatuh sakit._
_Mereka dilanda demam tinggi yang melemahkan tubuh._
_Abu Bakar, Bilal, dan Amir bin Fuhairah termasuk yang jatuh sakit._
_Saat sakit, Abu Bakar sering berkata,_
_"... mati itu lebih dekat dari pada tali sepatu kita."_
_Sementara itu, Bilal tidak suka berkata apa-apa jika sedang sakit._
_Namun, ketika sakitnya hilang, ia sering menangis karena merindukan Mekah sambil berkata,_
_"Apakah aku dapat berjalan malam hari di lembah yang di sekelilingku ada pohon-pohon idzkir dan jalil (nama pohon yang banyak terdapat di Mekah)._
_Dan apakah pada suatu hari aku dapat sampai lagi ke tempat air Majinnah dan apakah dapat terlihat lagi olehku Gunung Syamah dan Gunung Thafil (dua buah gunung dekat Mekah)."_
_Akan halnya dengan Amir bin Fuhairah, jika menderita demam tinggi sering bersyair,_
_"Sungguh aku mendapati mati sebelum merasakannya ..."_
_Rasulullah amat prihatin dengan sakit beberapa orang sahabat akibat cuaca panas tersebut._
_Beliau juga mendengar keluhan-keluhan mereka._
_Karena itu, Rasulullah pun berdoa kepada Allah,_
_"Ya Allah, berikanlah kami rasa cinta pada Kota Madinah sebesar rasa cinta kami pada Mekah, atau bahkan lebih !_
_Ya Allah, berilah berkah pada pekerjaan kami untuk mencari nafkah, sehatkanlah Kota Madinah ini untuk kami, dan pindahkanlah panasnya ke tempat lain yang Engkau kehendaki."_
_Allah mengabulkan doa Rasulullah itu dan memindahkan panas Kota Madinah ke Dusun Juhfah yang letaknya 82 mil dari Madinah._
_Selain berdoa dan mengatasi masalah cuaca, Rasulullah pun melakukan hal lain yang sangat indah agar kaum Muhajirin yang berasal dari Mekah tumbuh rasa cintanya pada Madinah._
*Tabarruk*
_Tabarruk adalah mengaharapkan berkah._
_Suatu ketika, saat Rasulullah tidur, datanglah Ummu Sulaim._
_Melihat keringat Rasulullah yang sangat harum menetes, Ummu Sulaim menadahnya._
_Tidak lama kemudian, Rasulullah bangun dan bertanya,_
_"Apa yang sedang kamu lakukan, wahai Ummu Sulaim ?"_
_Ummu Sulaim menjawab,_
_"Kami mengharap berkahnya untuk anak-anak kecil kami,"_
_Rasulullah kemudian berkata,_
_"Engkau benar."_
*Saling Bersaudara*
_Suatu hari, Rasulullah mengumpulkan para sahabat Muhajirin dan Anshar._
_Di hadapan mereka, beliau bersabda,_
_"Hendaklah kalian bersaudara dalam agama Allah dua orang - dua orang."_
_Para sahabat saling pandang._
_Beberapa di antara mereka tersenyum._
_Kemudian, Rasulullah bersabda,_
_"Hamzah bin Abdul Muthalib, singa Allah dan singa Rasul-Nya, bersaudara dengan Zaid bin Haritsah, putra angkat Rasulullah."_
_Kemudian Rasulullah menyebut nama-nama sahabat lain yang saling dipersaudarakan._
_Seorang Muhajirin dipersaudarakan dengan seorang dari Anshar._
_Tercatat dalam sejarah, ada seratus orang yang saling dipersaudarakan._
_Lima puluh dari Anshar dan lima puluh dari Mihajirin._
_Tujuan Rasulullah mempersaudarakan para sahabatnya adalah untuk menghilangkan rasa asing dalam diri sahabat Muhajirin di Kota Madinah._
_Selama itu, persaudaraan ini ditujukan untuk menunjukkan bahwa semua orang Islam bersaudara._
_Selain itu, juga agar setiap Muslim menjadi saling menolong yang kuat menolong yang lemah, yang mampu menolong yang kekurangan._
_Buah persaudaraan ini akan dirasakan terus selama tahun-tahun sulit yang kelak ditempuh Rasulullah dan para sahabatnya di Madinah._
_Ternyata, kalangan Anshar memperlihatkan sikap ramah yang luar biasa kepada saudara-saudara Muhajirin mereka._
_Sudah sejak semula golongan Anshar menyambut gembira kaum Mihajirin._
_Mereka begitu mengerti bahwa kaum Muhajirin meninggalkan segala yang mereka miliki, termasuk harta benda dan seluruh kekayaan di Mekah._
_Sebagian besar dari mereka memasuki Madinah dengan perut lapar tanpa ada lagi yang dapat dimakan._
_Apalagi mereka memang bukan orang berada dan berkecukupan._
_Tentu saja sebagai kaum yang berbudi, kaum Muhajirin tidak begitu saja terlena dengan bantuan saudara-saudara Anshar mereka._
_Kaum Muhajirin berusaha melakukan banyak pekerjaan agar mereka bisa kembali mandiri secepatnya._
*Persaudaraan Sejati*
_Aqidah Islamiyah adalah dasar persaudaraan sejati._
_Tidak mungkin dua orang yang berlainan agama bisa bersaudara seerat dua orang yang sama agamanya._
_Rasulullah menghimpun hati para sahabatnya begitu dekat, sehingga tidak ada perbedaan di antara mereka kecuali ketakwaan dan amal shalih._
Bersambung
_*Wallahua'lam*_