Kisah nabi Muhammad bagian 102
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ”
*KISAH RASULULLAH ﷺ*
Bagian 102
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
*Peristiwa Ar Raji*
_Rasulullah ﷺ selalu siap mengirim para sahabatnya untuk mengajarkan Islam kepada setiap suku yang memerlukan._
_Karena itu dengan prasangka baik Rasulullah memenuhi permintaan Bani Hudzail._
_Saat itu utusan Hudzail berkata,_
_"Muhammad di kalangan kami ada beberapa orang Islam, kirimkanlah beberapa orang sahabat Tuan bersama kami yang kelak akan dapat mengajarkan hukum Islam dan Alquran kepada kami._
_Enam orang sahabat besar diutus dan pergi bersama rombongan penjemput dari Hudzail._
_Penghianatan terjadi ketika mereka sampai di pangkalan air Ar Raji milik Bani Hudzail,_
_Enam orang sahabat itu dikepung._
_Begitu sadar bahwa mereka masuk dalam perangkap, keenam dai itu mencabut pedang._
_Hanya senjata itu yang mereka bawa namun di wajah mereka tidak terlihat terasa gentar sedikit pun._
_Orang-orang Hudzail berkata,_
_"Demi Tuhan, kami tidak ingin membunuh kalian._
_Kalian akan kami jual kepada penduduk Mekah sebagai tawanan._
_Kami berjanji Atas nama Tuhan kami bahwa kami tidak bermaksud membunuh kalian, karena itu menyerahlah."_
_Keenam sahabat itu saling berpandangan mereka menyadari bahwa apabila mereka dibawa ke Mekah sebagai tawanan, mereka pasti akan disiksa habis-habisan dan dibunuh. Itu berarti penghianatan besar yang lebih berat daripada pembunuhan biasa._
_Setelah saling sepakat dalam hati, salah seorang sahabat menjawab,_
_"Kami tidak akan menyerah, lakukan apa yang kalian mau kami sudah siap bertarung membela kehormatan agama dan nabi kami."_
_Maka orang-orang Hudzail yang jauh lebih banyak jumlahnya itu pun menyerang._
_Keenam sahabat itu bertarung dengan gigih, pedang mereka ayunkan dengan tangkas untuk menebas hujan panah atau menangkis tusukan tombak._
_Pertarungan tidak seimbang itu pun berakhir, tiga orang syahid dan tiga orang lagi berhasil ditangkap hidup-hidup._
_Mereka yang ditangkap itu adalah Abdullah bin Thariq, Zaid bin Adatsinah, dan Khubaib bin Adiy._
_Kemudian mereka segera dibelenggu dengan kuat dan dibawa ke Mekah._
_Namun di tengah jalan Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan diri dari pengikat._
_"Harus ada yang memberitahu Rasulullah ﷺ tentang penghianatan ini !" demikian pikir Abdullah._
_"Aku harus berusaha meloloskan diri sekarang, namun jika gagal aku sudah siap menyusul ketiga temanku yang lain ke akhirat."_
*Zaid bin Adatsinah*
_Abdullah bin Thariq menyerang seorang pengawal dan berhasil merebut pedangnya._
_Dengan pedang itu ia berusaha merebut seekor kuda, namun orang-orang Hudhail segera pulih dari rasa terkejutnya._
_Mereka mengambil batu dan melempari Abdullah dari belakang._
_Batu-batu sebesar kepalan tangan menghantam tubuh dan kepala sahabat mulia itu._
_Abdullah jatuh bersimbah darah dan gugur dalam keadaan yang sangat diimpikan setiap muslim._
_Syahid membela agama._
_Kedua tawanan yang lain terus dibawa ke Mekah dan dijual._
_Zaid bin Adatsinah dijual kepada Shafwan bin Umayyah._
_"Aku akan membunuhnya sebagai balasan terbunuhnya ayahku di tangan mereka," geram Safwan dengan mata menyala-nyala._
_Ayah Shafwan, Umayyah bin Khalaf dibunuh Bilal bin Rabah dalam Perang Badar._
_"Nastas," panggil Shafwan keras-keras._
_Seorang Budak berbadan tegap datang._
_"Siksa dan bunuh orang ini," perintah Shafwan kepada Nastas._
_"Bawa dia ke tempat di mana semua orang bisa melihatnya!" ujar Shafwan._
_Zaid pun diseret-seret melalui jalan-jalan di Mekah._
_Sebagian orang menyoraki dan mencemoohnya._
_Sebagian lain menaruh kagum, dalam hati melihat ketabahan Zaid._
_Tak terlihat sedikit pun rasa takut di wajah Zaid._
_Di tengah siksaan itu, Zaid tetap tampak berwibawa dan teguh seperti Bukit Cadas._
_Di tempat Zaid akan dibunuh, Abu Sufyan datang mendekat._
_"Zaid, orang segagah engkau tidak pantas mati begini," ujar Abu Sufyan._
_"Bersediakah engkau memberikan tempatmu itu pada Muhammad ?_
_dia-lah yang harus dipenggal lehernya, sedang kau dapat kembali kepada keluargamu !"_
_Zaid menatap Abu Sufyan seakan heran dengan pertanyaan itu._
_"Tidak," jawab Zaid._
_"Seandainya Rasulullah ﷺ di tempatnya sekarang ini akan menderita karena tertusuk duri sekali pun, sedang aku ada di tempat keluargaku, aku tidak akan rela !"_
_Abu Sufyan terpana sambil menggeleng kagum. Ia berkata,_
_"Belum pernah aku melihat seorang begitu mencintai sahabatnya sedemikian rupa seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai Muhammad."_
_Zaid pun dipenggal._
_Ia gugur sebagai syahid yang memegang teguh amanat Rasulullah._
_Diriwayatkan oleh Tabrani dari Ibnu Abbas Rasulullah ﷺ bersabda sekuat-kuat ikatan iman adalah persaudaraan karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, cinta karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan membenci karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى._
Bersambung
_*Wallahua'lam*_