Kisah nabi Muhammad bagian 89

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ”

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

Bagian 89

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

_Rasulullah ﷺ mengizinkan Muhammad bin Maslamah mengatakan apa saja yang ia ingin katakan kepada Ka'ab bin Al Ashraf._

_Muhammad bin Maslamah kemudian mendatangi Ka'ab bin Al Ashraf_

_Ka'ab berkata:_

_"Rupanya, engkau telah bosan kepadanya."_

_Muhammad bin Maslamah berkata,_

_"Kami telah mengikuti dia, dan kami tidak ingin meninggalkannya sampai kami melihat sendiri bagaimana akhir persoalannya nanti._

_Kami menginginkan engkau bersedia memberi pinjaman kepada kami satu atau dua wasaq (satu wasaq kurang lebih sama dengan 60 gantang)."_

_"Baiklah tetapi engkau harus memberikan barang jaminan kepadaku," jawab Ka'ab._

_Muhammad bin maslamah berkata,_

_"Jaminan apa yang kau inginkan ?"_

_"Berikanlah istri-istri kalian kepadaku sebagai jaminan," jawab Ka'ab._

_Muhammad bin maslamah berkata,_

_"Bagaimana mungkin kami menyerahkan istri-istri kami sementara engkau adalah orang yang paling tampan."_

_"Kalau begitu, Serahkanlah anak-anak kalian kepadaku," sahut Ka'ab._

_Muhammad bin maslamah berkata,_

_"Bagaimana mungkin kami menyerahkan anak-anak kami sebagai jaminan._

_Mereka akan mencela karena digadaikan dengan satu atau dua wasaq._

_Ini adalah aib bagi kami._

_Kami akan menyerahkan senjata saja kepadamu sebagai barang jaminan."_

_Selanjutnya ia berjanji akan datang lagi kepada Ka'ab_

_Abu Na'ilah juga melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Muhammad bin maslamah._

_Dia mendatangi Ka'ab bin Al Ashraf dan mengalunkan beberapa syair sejenak, lalu berkata,_

_"Wahai Ibnul Ashraf aku datang kepadamu untuk suatu keperluan._

_Aku akan mengatakannya hanya kepadamu, tetapi rahasiakanlah."_

_Ka'ab menjawab, "Baik akan kurahasiakan."_

_Selanjutnya saling dialog seperti dialog antara Ka'ab dan Muhammad bin maslamah._

_Di sela-sela pembicaraannya itu, Abu Nailah mengatakan,_

_"Sesungguhnya aku bersama para sahabatku yang sependapat dengan aku._

_Aku ingin membawa mereka kepadamu, lalu engkau memberi mereka yang berlaku baik dalam hal tersebut."_

_Dalam dialog tersebut Muhammad bin Maslamah dan Abu Naila telah berhasil mencapai apa yang diinginkannya._

_Karena setelah dialog tersebut Ka'ab tidak mencurigai senjata dan para sahabat yang mereka bawa._

_Pada malam bulan purnama, malam ke 14 dari bulan Rabiul awal tahun ke-3 Hijriyah, tim tersebut berkumpul menghadap Rasulullah ﷺ,_

_Beliau kemudian mengantar mereka sampai ke Baqi' Gharqad,  lalu mengarahkan mereka dengan mengatakan,_

_"Berangkatlah atas nama Allah. Ya Allah, tolonglah mereka."_

_Setelah itu beliau pulang dan terus melakukan sholat dan bermunajat kepada Rabbnya._

_Tim itu pun tiba di benteng (tempat tinggal Ka'ab bin Al Ashraf) Abu Na'ila kemudian memanggilnya, dan Ka'ab pun bangkit untuk mendatangi mereka._

_Istrinya berkata,_

_"Mau kemana pada saat seperti ini ?_

_Aku mendengar seperti suara yang dapat meneteskan darah."_

_Ka'ab berkata,_

_"Ia adalah saudaraku, Muhammad bin Maslamah dan saudara susuku Abu Na'ilah._

_Sesungguhnya orang yang mulia itu apabila dipanggil untuk bertempur, pasti bersedia menghadapinya."_

_Kemudian ia keluar menemui mereka dengan pakaian yang harum semerbak._

_Abu Na'ilah telah berkata kepada para sahabatnya,_

_Apabila kalian melihat aku telah dapat memegang kepalanya, renggutlah dan bunuhlah dia."_

_Ka'ab pun datang menghampiri mereka dan berbicara sejenak, kemudian Abu Na'ilah berkata,_

_"Wahai Ibnu Ashraf,  bagaimana kalau kita berjalan jalan di jalanan kampung untuk berbincang-bincang menghabiskan malam-malam kita ?"_

_"Baiklah jika kalian menghendaki," jawab Ka'ab bin Asyrof._

_Mereka kemudian keluar untuk berjalan-jalan, di tengah perjalanan Abu Nailah berkata,_

_"Aku belum pernah melihat engkau seharum pada malam ini."_

_Kaab bangga mendengar pujian seperti itu, dan ia berkata,_

_"Aku mempunyai parfum wanita-wanita Arab."_

_Abu Na'ilah berkata, "Bolehkah aku mencium kepalamu ?"_

_"Boleh," jawab Kaab._

_Abu Na'ilah kemudian membelai kepala rambut Ka'ab dan menciumnya, demikian pula para sahabatnya._

_Kemudian berjalan sejenak, lalu berkata, "Bolehkah aku mengulanginya lagi ?"_

_"Silahkan," jawab Kaab._

_Abu Na'ilah pun membelai rambutnya, dan tatkala sudah dapat memegangnya, ia  berseru,_

_"Renggutlah musuh Allah ini !"_

_Seketika itu juga pedang-pedang mereka merenggutnya tetapi tidak memberikan manfaat sedikit pun._

_Lalu Muhammad bin maslamah mengambil sebilah pedang dan dia letakkan di bagian bawah perut lalu dia tekan sampai menembusnya._

_Kaab pun terkapar dan mati seketika._

Bersambung

_*Wallahua'lam*_

Postingan populer dari blog ini

Cara prosedur pengurusan stpt surat terdaftar pengobatan tradisional

Pitungan jawa bab jejodohan edisi kejawen

Ciri ciri laki laki mencintai dengan tulus