Sepiritual
Pakai jubah putih, pakai sorban putih, gunanya apa bagi kebersihan bathin kita? Sama juga dengan pakai ikat kepala hitam, pakai baju hitam-hitam, bawa dupa atau kemenyan ditambah dengan nyengkelit keris, itu juga apa gunanya bagi kebersihan bathin kita?
Kulit tetap saja kulit, mau berbentuk sorban putih atau ikat kepala hitam, mau berbentuk jubah putih atau baju hitam-hitam, semuanya tetap bernilai kulit. Semua masih sebatas ingin menunjukkan sesuatu. Lucu bagi mereka yang menolak sorban dan jubah namun suka sekali pakai ikat kepala hitam dan pakai baju hitam-hitam. Sama lucunya bagi mereka yang menolak ikat kepala hitam dan baju hitam-hitam lalu mengagung-agungkan sorban dan jubah.
Spiritualitas asli tidak tergantung pada itu semua. Bahkan bisa jadi, mereka yang hanya pakai celana kolor dengan bertelanjang dada adalah seorang spiritualis sejati..
Menilai seorang guru spiritual yang benar memang tidak bisa dipandang dari busana dan tampilan luarnya semata. Tampilan luar itu kadang menipu, demikian banyak orang berkata.
Namun seorang guru spiritual yang benar adalah sosok yang sudah seharusnya telah berhasil mengalahkan dualitas duniawi. Seorang guru spiritual yang benar adalah sosok yang sudah seharusnya telah berhasil melampaui kesenangan dan penderitaan itu sendiri. Dia telah menjejaki titik keseimbangan, tidak tercemari oleh pengaruh kesenangan sekaligus juga tidak tercemari oleh pengaruh penderitaan. Dia menerima kesenangan apa adanya, dan disaat yang sama dia juga menerima penderitaan apa adanya pula.
Bagi manusia, tidak perlu lagi diajari untuk menerima kesenangan, tapi untuk menerima penderitaan tentu saja tidak mudah. Anda bisa membayangkan tubuh Anda terbakar, betapa pedih luka yang tercipta karenanya. Atau Anda bisa membayangkan rasa tercekik hebat pada leher Anda sehingga Anda tidak bisa bernafas karenanya. Jika hanya dengan membayangkannya saja Anda sudah merasa tak sanggup untuk menerima penderitaan semacam itu, maka jangan sekali-kali mengaku telah melampaui dualitas. Bathin pelampau dualitas tiada akan terusik oleh segala fenomena dari luar dan dalam diri yang merangsang kesadaran mereka, baik fenomena tersebut berupa kesenangan maupun berupa pedihnya penderitaan. Bathin pelampau dualitas teramat jernih dan tenang.
Jika belum sanggup menerima penderitaan dengan bathin yang tenang setenang angkasa membiru, jangan sekali-kali Anda mengaku telah melampaui dualitas, melampaui kesenangan dan penderitaan, Anda jelas nggedabrus.
Oleh karenanya, untuk menilai apakah seseorang tersebut adalah guru spiritual yang benar atau bukan, maka akan lebih mudah menilainya ketika dirinya tengah tertimpa pedihnya penderitaan. Saya akan langsung bersujud dan menundukkan bathin setunduk-tunduknya manakala berhadapan dengan seorang pertapa telanjang, yang duduk dalam pengasingannya di sebuah gua, dengan tubuhnya yang kurus kering serta rambut panjangnya yang tidak terawat walaupun dirinya tidak minta diakui sebagai seorang spiritualis. Dan saya akan mengambil jarak untuk menundukkan bathin saya pada seseorang yang mengaku guru spritual, yang saban hari kerjaannya hanya blakrakan dari satu hotel ke hotel lain, dari satu café ke café lain sekaligus memiliki ‘pertapaan’ nyaman didalam mobil mahal.