Berilmu amalkan!
_Sudah berapa lama kita ikut pengajian ?_
_Sudah berapa kitab yang kita baca ?_
_Sudah berapa muhadhorah yang kita dengarkan ?_
_Apakah dengan semakin bertambahnya ilmu kita demikian juga bertambah amalan kita ?_
_Ataukah bertambahnya ilmu justru membuat kita semakin malas dalam beramal ?_
_Ada sebagian dari kita dengan semakin bertambahnya ilmu justru semakin sedikit beramal ?_
_Bahkan, ada pula sebagian kita setelah mengetahui beberapa amalan hukumnya sunah (mustahab) dan tidak wajib, malah terdorong untuk meninggalkan amalan tersebut ..._
_*Bertambahnya ilmu justru mengantarkannya untuk meninggalkan amalan ...*_
_Bukankah bisa jadi karena terbiasa meninggalkan amalan-amalan sunah akhirnya perkara-perkara yang wajib pun bisa ditinggalkan ?_
_Apakah kita siap untuk menjawab pertanyaan yang pasti akan ditanyakan kepada kita semua_
Sebagaimana yang dikabarkan Nabi saw. :
وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ ؟
“ _*Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya ?*_ ”
_Syaikh Abdurrozzaq menjelaskan bahwa *seseorang yang telah banyak mengumpulkan ilmu* lantas *tidak diamalkan* maka hal ini menunjukkan *ada niatnya yang tidak beres*_
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ
_*Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng)*_
( Al Fawaid 86)
_Maksud “ telah termasuki” dari perkataan Ibnul Qoyyim yaitu telah termasuki sesuatu; baik riya, tujuan duniawi, atau yang semisalnya_
_Maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diberkahi_
_Jika seseorang mempelajari ilmu hendaknya dia tidak mempelajarinya sekadar menambah telaah dan memperbanyak wawasan_
_Jika seseorang mempelajari suatu ilmu dengan niat dan berijtihad (berusaha keras) untuk memahami dalil-dalilnya dan ber-taqarrub kepada Allah dengan mengimaninya dan menanamkannya dalam hati maka akan memengaruhinya dalam perbaikan sikap, amal, dan akhlak dalam seluruh kehidupannya_
_Jika seseorang mempelajari suatu ilmu hanya untuk jidal dan perdebatan, dengan tanpa memerhatikan sisi penyucian jiwa dengan keimanan, keyakinan, serta rasa tenang dengan akidah tersebut, maka tidak akan membuahkan hasil apa-apa_
_*Bahwasanya tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan*_
Rasulullah saw. bersabda :
القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
_*Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu*_
(HR Muslim no 223)
_Hendaknya seseorang tidak menuntut ilmu hanya untuk menambah wawasannya, tetapi dengan niat untuk diamalkan agar tidak menjadi bumerang yang akan menyerangnya pada hari kiamat kelak_
_Seorang muslim semestinya mempelajari Ilmu Syar'i karena itu adalah agamanya yang Allah telah memerintahkan dia untuk mengamalkannya_
_Dan hendaknya dia bersungguh-sungguh agar ilmu tersebut bisa memberi pengaruh pada diri, ibadah, dan taqarrub-nya kepada Allah_ ”
_*Marilah kita cek hati dan ketakwaan kita, apakah dengan bertambah ilmu setelah sekian tahun ikut pengajian, maka ketakwaan dan keimanan kita semakin berkobar, ataukah malah semakin kendor ?*_
_Jika ternyata kita semakin malas beramal dan semakin lemah iman kita maka ingatlah nasihat Syaikh Abdurrozzaq_
_*Bahwasanya niat kita selama ini ternyata terkontaminasi dan ternodai dengan penyakit-penyakit hati; baik riya, ujub, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya*_
_*Ilmu hanya disebut ibadah dan terpuji apabila ilmu tersebut membuahkan amalan*_
_*Jika ilmu tidak membuahkan amal maka jadilah tercela dan akan menyerang pemiliknya*_
Hal ini dijelaskan dengan tegas oleh Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat.
Beliau berkata:
أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ لا يُفيد عَمَلاً؛ فَلَيْسَ فِي الشَّرعِ مَا يَدُلُّ عَلَى استِحسَانِه
“ _*Semua ilmu yang tidak membuahkan amal maka tidak dalam syariat satu dalil pun yang menunjukkan akan baiknya ilmu tersebut*_ ”
(Al-Muwafaqat 1/74)
_*Oleh karena itu, semua dalil yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu semuanya harus dibawakan kepada ilmu yang disertai dengan amal*_
Firman Allah:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)
“Katakanlah :
‘ _Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?_ ”
_Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran_
(Q.S. Az-Zumar: 9)
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨)
_Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan_
_Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana_
(Q.S. Ali Imran: 18)
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
_Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_
(Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Demikian juga semisal hadits Nabi saw. :
من يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
_Barang siapa yang Allah *kehendaki kebaikan* baginya maka Allah akan membuat dia *faqih (paham) tentang ilmu agama*_
_*Maksudnya adalah orang yang dikendaki kebaikan oleh Allah adalah orang yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya*_
_Adapun orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmunya akan menjadi bumerang baginya_
Asy-Syathibi rahimahullah membawakan banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu.
Beliau berkata :
“ _*Sesungguhnya ruh ilmu adalah amal*_
_Jika ada ilmu tanpa amal maka ilmu tersebut kosong dan tidak bermanfaat_
Allah telah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
_Sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah para ulama_
(Q.S. Fathir: 28)
وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ
_Dan Sesungguhnya Dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya_
(Q.S. Yusuf: 68)
Qatadah berkata:
“ _Maksudnya adalah لَذُو عَمَلٍ بِمَا عَلَّمْنَا dia mengamalkan ilmu yang Kami ajarkan kepadanya …_ ”
(Al-Muwafaqat 1/75).
Hadits Nabi saw :
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يُسأَلَ عَنْ خَمْسِ خِصَالٍ”،
“ *_Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang lima perkara_* ”
Di antara lima perkara tersebut yang disebutkan oleh Nabi saw. :
وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ ؟ “
*_Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya ?_* ”
Asy-Syathibi dalam perkataannya :
“ _Dan dalil akan hal ini (bahwasanya ilmu hanyalah wasilah untuk amal dan bukan tujuan) sangat banyak_
_*Semuanya memperkuat bahwa ilmu merupakan sebuah wasilah (sarana) dan bukan tujuan langsung jika ditinjau dari kacamata syariat*_
_Akan tetapi, *ilmu hanyalah wasilah untuk beramal*_
_*Maka semua dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu hanyalah berlaku bagi ilmu yang disertai dengan amalan*_
*_Dan kesimpulannya bahwasanya seluruh ilmu syar’i tidaklah dituntut (dalam syariat) kecuali dari sisi sebagai sarana untuk mencapai sesuatu yaitu amal_* .”
(Al-Muwafaqat 1/83-85)
_*Tujuan ilmu adalah amal*_
_*Sebagaimana tujuan amal adalah keselamatan*_
_Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya_
_*Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan menjadi belenggu di leher pemiliknya*_
Sebagian ahli bijak berkata,
“ _*Ilmu adalah pembantu bagi amal, dan amal adalah puncak dari ilmu*_ ”
(Iqtidhaul Ilmi Al-’Amal 14-15)
Wallahua'lam