Kisah nabi Muhammad bagian 93
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ”
*KISAH RASULULLAH ﷺ*
Bagian 93
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
*Semangat Quraisy*
_Semangat membalas dendam menyala berkobar-kobar di hati setiap tentara Quraisy._
_Apalagi, mereka ingin memamerkan kemampuan tempur di hadapan bunga-bunga Quraisy yang kini terus menyanyi mengorbankan semangat._
_Genderang bertalu-talu dan wewangian nan semerbak merebak._
_Belum pernah sebelumnya orang-orang Quraisy berangkat perang dengan tekad sekuat ini._
_Di depan, Abu Sufyan memegang komando._
_Dua pasukan berkuda kavaleri yang dipimpin Khalid bin Walid dan Iqlima Bin Abu Jahal mengawali Sisi kiri dan kanan._
_Di dusun Abwa, beberapa prajurit Quraisy hampir saja membongkar kuburan Aminah, ibunda Rasulullah ﷺ._
_Untung para Pembesar Quraisy segera datang dan melarang._
_"Nanti mereka juga akan membongkar makam-makam kita," cegah pembesar itu._
_Pasukan tersebut terus bergerak semakin dekat ke Madinah, mereka sudah siap beraksi bagai angin puyuh yang akan menerjang._
_Angin puyuh yang diliputi nyala api kemarahan dan angan-angan kemenangan yang memabukkan._
_Mereka mendekati Madinah dari dataran tinggi._
_Di tempat itu, gunung Uhud yang kasar menggunduk bagai makhluk besar yang siap menerkam._
_Kaum muslimin di Madinah pasti akan sangat terkejut, jika mereka tidak mengetahui meningkatnya pasukan yang jumlahnya tiga kali lebih banyak daripada pasukan yang pernah mereka taklukan di Badar._
_Apakah kaum muslimin mengetahui gerakan ini ?_
_Jika mereka mengetahui, strategi apa yang akan dilakukan Rasulullah ﷺ ?_
_Akankah beliau memimpin kaum muslim bergerak menyongsong musuh atau bertahan di Madinah ?_
*Kaum Muslimin Bermusyawarah*
_Paman Rasulullah ﷺ , Abbas bin Abdul Muthalib ikut dalam pasukan Quraisy itu._
_Ia memang masih mencintai agama nenek moyangnya, tapi hatinya sudah semakin kagum kepada keponakannya itu._
_Abbas ingat ketika ia diperlakukan dengan baik sebagai tawanan pada Perang Badar._
_Karena itulah sebelum pasukan Quraisy berangkat, diam-diam Abbas mengirimkan surat kepada seorang Bani Ghifar untuk disampaikan kepada Rasulullah ﷺ._
_Surat ini berisi berita pemberangkatan pasukan Quraisy._
_Seorang utusan Abbas memberitakan keberangkatan Quraisy kepada Rasulullah ﷺ._
_Rasulullah ﷺ segera mengajak para sahabat bermusyawarah._
_Kita akan pergi ke luar kota atau menyongsong di dalam kota._
_Abdullah bin Ubay mengatakan ingin bertahan di dalam kota._
_Musyawarah membuat semua orang jadi mengetahui sepenuhnya bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi._
_Hal itu akan membuat anggota pasukan saling mempercayai._
_Setiap orang akan menganggap dirinya benar-benar bagian dari pasukan, sehingga mampu berjuang saling bahu-membahu._
*Keberanian Para Pemuda*
_Para sesepuh Anshor angkat bicara,_
_"Ya Rasulullah, tetaplah tinggal di Madinah._
_Jangan pergi menghadapi musuh karena itu berarti musuh sudah menang._
_Andaikata musuh yang datang menyerbu, kita pasti yang menang._
_Biarkan saja mereka di sana mengepung kita._
_Jika mereka memaksakan diri bertahan, berarti mereka justru berada dalam keadaan merugikan diri sendiri."_
_Sebetulnya, Rasulullah ﷺ ingin agar kaum Muslimin menyepakati usul ini._
_Para sesepuh Anshor yang telah berjuang mempertahankan kota selama puluhan tahun tentu tahu benar bahwa mereka lebih baik bertahan di dalam kota._
_Namun tidak demikian halnya dengan para pemuda Muslim yang semangatnya sedang menyala-nyala._
_Mereka terpukau atas kemenangan 300 orang sahabat Rasulullah ﷺ menghadapi 1000 orang musuh pada Perang Badar._
_Sebenarnya, Rasulullah ﷺ memang cenderung pada pendapat para sesepuh Anshar itu._
_Akan tetapi, di balik itu, Rasulullah ﷺ juga mengetahui bahwa apabila mereka bertahan di dalam kota, sangat mungkin akan terjadi penghianatan dari kaum munafik atau orang Yahudi._
_Tiba-tiba Bilal mengumandangkan adzan._
_Rapat perang pun dihentikan dan Rasulullah ﷺ memimpin mereka melaksanakan shalat Jum'at._
_Khutbah Rasulullah ﷺ kali itu berisi ajakan agar kaum muslimin menabahkan hati untuk memperoleh kemenangan._
_Kemudian dimintanya kaum muslimin bersiap menghadapi musuh._
_Setelah sholat Jumat, rapat dilanjutkan lagi, Saad bin Khaitsama berkata,_
_"Semoga Allah memberikan kemenangan atau mati syahid._
_Dalam perang Badar saya amat mendambakan mati syahid, tapi ternyata meleset._
_Justru anak saya yang mendapatkannya._
_Semalam, saya bermimpi bertemu dengan anak saya dan dia berkata,_
_"Ayah susullah kami dan kita bertemu di dalam surga."_
_Sudah saya dapatkan apa yang dijanjikan Allah kepada saya."_
_"Ya Rosulullah, sungguh rindu saya akan menemui anak saya di dalam surga._
_Saya sudah tua, tulang sudah rapuh._
_Saya ingin bertemu Allah."_
_Kata-kata itu semakin menguatkan semangat kaum Muslimin untuk menyongsong musuh ke luar kota._
_"Saya khawatir kamu akan kalah jika pergi ke luar kota," demikian Sabda Rasulullah ﷺ._
_Namun suara terbanyak kaum muslimin adalah agar mereka menyongsong musuh._
_Rasulullah ﷺ pun segera mengetahui keputusan mana yang akan diambil._
_Setiap pemuda tentulah tidak sama._
_Pemuda masa kini yang berangan-angan memiliki mobil mewah uang yang banyak dan hidup berfoya-foya dengan pemuda yang bertekat bulat dan kuat untuk mewujudkan kemenangan serta kemuliaan Islam._
Bersambung
_*Wallahua'lam*_